Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Melawan Akal Sehat : Teror Is Jancuk (Upss) !!!

Di tengah hiruk pikuk pekik kebangsaan dan memudarnya Jiwa Nasionalisme dan belum tuntasnya sebagian anak bangsa tentang dialektika tentang Posisi Agama atas Negara serta masih belum tercapainya sebuah kemerdekaan "yang sebenarnya" menjadikan sesama anak bangsa saling terbiasa menyeru kebencian dan berujar kebencian baik di media sosial atau melalui aksi nyata dijalanan.

Jawa Timur, memiliki tantangan tersendiri dalam merawat dan menumbuhkembangkan nilai-nilai toleransi. Potensi-potensi munculnya radikalisme, terorisme sangat besar dengan cakupan wilayah luas yang dikelilingi dengan daerah-daerah rawan konflik, apalagi ditahun politik dimana beredarnya kepentingan diatas realitas dinamika sosial yang ada.

Peran pemuda (baca: generasi milenial) sangat vital dalam menumbuhkembangkan dan merawat toleransi yang sudah jauh sangat berkembang serta mentradisiskan perilkau beragama dengan memunculkan “kreatifitas ibadah” (baca: dakwah wali songo) dengan berlandaskan kearifan-kearifan lokal.

Agama Kemanusiaan

Belajar pada masa lalu adalah penting dan melakukan lompatan besar untuk masa yang akan datang jauh lebih penting, Islam sebagai agama kemanusiaan menjadikan kita tersadar sejak dalam fikiran bahwa apapun bentuknya apabila bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan pastilah bukan ajaran Islam. Berkembangnya pemahaman keagamaan yang sempit (baca: ekslusif) dengan menganggap bahwa dirinyalah penganut agama terbaik dan bukan golongang-nya adalah Kaum Kafir yang tidak layak masuk Surga. Kekeliruan inilah yang bila dibiarkan akan menjadikan benih-benih tumbuhnya kebencian antar sesama anak bangsa, bahkan dapat berperilaku teror dengan tidak lagi menjadikan ajaran agama sebagai semangat “motivasi” berbuat kebaikan tapi menjadikan agama sebagai ancaman, kekerasan dan ujaran seruan kebencian.

Menjemput Generasi

Perkembangan teknologi yang begitu cepat disertai dengan kemampuan melintasi ruang privasi dan ruang publik, menjadikan tantangan tersendiri dalam mendisiplinkan pola komunikasi dan berbagi pengetahuan. Kini semua individu dapat menjadi “wartawan” dengan mudah membagikan gambar-gambar penangkapan teroris ataupun situasi detik-detik terjadinya tindak teroris, seolah berlomba-lomba menjadi pemenang bahwa jarinyalah yang pertama kali menerima informasi dan membagikan dengan begitu saja, MIRIS.  
Kepedulian terhadap kelangsungan sebuah generasi menjadikan tantangan yang harus dijawab segera dengan memformulasikan pola-pola interaksi yang sudah tidak lagi menggunakan cara-cara komunikasi model “lama” dimana terbukanya ruang publik dan semakin kecilnya ruang privasi menjadikan generasi (baca: milenial) harus melakukan perubahan mendasar sejak dini dengan pemahaman kemanusiaan yang utuh dan mau terus belajar.

Kesegaran Berfikir

Memelihara kekuatan Nalar berfikir dan bertindak dengan dibarengi analisa yang tajam dan akurat sangatlah diperluakan dalam sebuah masyarakat modern. Pembacaan atas realitas kehidupan masyarakat dan terjebaknya ummat (baca: penganut agama) dalam “kebingungan” atas petunjuk beragama menjadikan perlunya merawat kembali kesegaran berfikir dengan menyelaraskan antara konteks yang tidak lagi berlandaskan teks semata. Bertindak dengan mengedepankan sisi positif berfikir maka diperlukan instrumen yang sangat sederhana yaitu rasa dan sikap TOLERANSI.

Kita tetap bersyukur bahwa hari ini masyarakat Jawa Timur mampu meredam dari dangkalnya berfikir dan jauh dari sikap arogansi dalam menyikapi tindak terorisme karena sesungguhnya teroris adalah JANCUK !!!


Marhaban Ya Ramadhan dan Perbanyak Ngopi !!!

Oleh : Masruri Mahali